“Kau datang,
kau pergi. Kita bertemu, kita berpisah. Seharusnya memang seperti demikian,”
kata Pak Oto.
Aku baru saja
mengalungkan kunci sepeda melingkar pada batang leher sadel.
“Bahwa hidup manusia sebenarnya tidak lebih
dari sekadar bertemu dan berpisah.” Kali ini Pak Sam yang bicara. Aku menoleh
ke arah Si Ma’am.
“Tidak seperti
itu,” Pak Oto menyahut lagi. Aku mengalihkan pandangan kepada orang tua itu.
“Tidak hanya sekedar. Pertemuan dan perpisahan adalah salah satu bagian
penyusun hidup.”
Novel ini kututup. Terimakasih atas pelajarannya hari
ini. Berpikir sejenak untuk menyerap kata-kata itu.
‘Kau datang, kau pergi. Kita bertemu, kita
berpisah’ Jadi apa itu hidup? Tempat
untuk bilang hai dan selamat tinggal? Semudah itu? Secepat itu? Lalu untuk apa
mereka datang kalau hanya sekadar permisi? Pada akhirnya semua tinggal sendiri
bukan?
Seperti biasa, semua seperti biasa. Alur yang monoton.
Melewati jalan yang sama, bertemu manusia yang sama, masalah yang sama, jam
yang sama –berputar melewati angka yang sama-
Contoh hal yang kecil saja; berangkat sekolah pada
jarum jam yang sama, masuk ke kelas yang sama, bertemu mereka yang sama, hal
yang sama. Keterlambatan Ihsan, kericuhan Arnin, gaya sengak Arief, rambut
klimis Owen, tempat minum Azila, dan bahkan kerepotan Nadia untuk setumpuk
kertas di tangannya.
Apa mereka sekadar mampir?
Lalu disebut apa kenangan? Bau debu jalan, noda di
piring, tali sepatu, lubang di tengah jalan, suara uang picisan, hal yang
monoton. Hal yang monoton.
Keterlambatan Ihsan, kericuhan Arnin, gaya
sengak Arief, rambut klimis Owen, tempat minum Azila, kerepotan Nadia untuk
setumpuk kertas di tangannya. Hal yang monoton mudah untuk diingat.
Lalu disebut
apa perpisahan? Berpisah.
Lalu untuk apa mereka datang?
Panggil aku manusia tolol yang menjawab pertanyaannya
sendiri.
Baiklah, mereka hanya meminta untuk dikenang. Atau
selebihnya. Manusia butuh didengar bukan? Manusia butuh orang lain untuk
membantunya. Menaruhkan masker kedalam tas, membuatkan pr, mengambilkan pulpen
jatuh, memegangi pintu toilet. Seperti itu.
Tapi terkadang mereka yang meminta kenangan. Untuk
apa? Mereka butuh bekal untuk kedepan. Dan jika mereka merasa cukup, mereka
akan bilang terimakasih. Lalu pergi dan meminta kenangan lagi kepada yang lain.
Tapi mereka bukan Dementor, ingat itu.
Secepat itu? Manusia punya tujuan hidupnya sendiri.
Pada akhirnya manusia tinggal sendiri.
Lalu disebut apa perpisahan? Selesai dalam satu
babak.
Mengapa terkadang perpisahan menyakitkan? Mungkin
karena kenangan tentang hal yang monoton. Kenangan bertolak dengan waktu.
Perpisahan hanya tentang waktu.
Siang itu ada kucing yang melahirkan. Bukan di atap,
bukan di rumah kosong, melainkan di teras rumahku. Ada 3ekor anak kucing,
mereka seperti alien. Aku mengamati mereka, hari pertama mereka seperti alien,
hari kedua mereka masih seperti alien, hari ketiga mereka mulai ber-meong
mencari ibunya. Hari keempat mereka pindah, bukan langkah mereka hanya menggeser tubuh mungilnya, hari kelima tubuhnya bukan menyerupai alien lagi, aku mulai bisa
membedakan mereka, memberinya nama. Kucing yang seperti ibunya aku beri nama
Kucing1, kucing yang seperti ibunya dan sedikit lebih aktif aku beri nama Kucing2,
dan yang pendiam aku beri nama Kucing3 –panggil aku Pemberi Nama yang Buruk-
Hari keenam Kucing3 mati, hari ketujuh Kucing1dan2
menyusul. Si Induk hanya diam, entah apakah dia mengerti atau tidak, yang jelas
aku tidak bisa bahasa kucing.
Hari pertama mereka bilang ‘Hai’ dan hari ketujuh
mereka bilang ‘Selamat tinggal’. Begitu singkat. Perpisahan memang menyakitkan.
Apa aku kurang bersyukur? Nasibku lebih baik dari
Kucing 1,2,dan 3. Aku masih bisa bertemu dan mengucapkan ‘hai’ kepada yang
lain. Bertemu dengan hidup yang kubilang monoton.
Pertemuan mencintai perpisahan. Seperti Sidiq yang
mencintai tidur, Galuh yang mencintai buku, Owen yang mencintai gitarnya, Barry
yang mencintai anime, Riyan yang mencintai Path, Suffa yang mencintai kameranya,
Dera, Jody, Ojan, Kevin -dan entahlah mereka terlalu banyak- yang mencintai
motor dan kopinya, Bu Ema yang mencintai ungu, dan Si Induk yang mencintai anaknya. Analogi yang masuk akal, hei?
NP: bahasanya aneh, suatu saat ini harus diperbaiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar