Kamis, 08 Mei 2014

“Kau datang, kau pergi. Kita bertemu, kita berpisah. Seharusnya memang seperti demikian,” kata Pak Oto.
Aku baru saja mengalungkan kunci sepeda melingkar pada batang leher sadel.
 “Bahwa hidup manusia sebenarnya tidak lebih dari sekadar bertemu dan berpisah.” Kali ini Pak Sam yang bicara. Aku menoleh ke arah Si Ma’am.
“Tidak seperti itu,” Pak Oto menyahut lagi. Aku mengalihkan pandangan kepada orang tua itu. “Tidak hanya sekedar. Pertemuan dan perpisahan adalah salah satu bagian penyusun hidup.”

Novel ini kututup. Terimakasih atas pelajarannya hari ini. Berpikir sejenak untuk menyerap kata-kata itu.
 ‘Kau datang, kau pergi. Kita bertemu, kita berpisah’  Jadi apa itu hidup? Tempat untuk bilang hai dan selamat tinggal? Semudah itu? Secepat itu? Lalu untuk apa mereka datang kalau hanya sekadar permisi? Pada akhirnya semua tinggal sendiri bukan?
Seperti biasa, semua seperti biasa. Alur yang monoton. Melewati jalan yang sama, bertemu manusia yang sama, masalah yang sama, jam yang sama –berputar melewati angka yang sama-
Contoh hal yang kecil saja; berangkat sekolah pada jarum jam yang sama, masuk ke kelas yang sama, bertemu mereka yang sama, hal yang sama. Keterlambatan Ihsan, kericuhan Arnin, gaya sengak Arief, rambut klimis Owen, tempat minum Azila, dan bahkan kerepotan Nadia untuk setumpuk kertas di tangannya.
Apa mereka sekadar mampir? 
Lalu disebut apa kenangan? Bau debu jalan, noda di piring, tali sepatu, lubang di tengah jalan, suara uang picisan, hal yang monoton. Hal yang monoton.
                 Keterlambatan Ihsan, kericuhan Arnin, gaya sengak Arief, rambut klimis Owen, tempat minum Azila, kerepotan Nadia untuk setumpuk kertas di tangannya. Hal yang monoton mudah untuk diingat.
Lalu  disebut apa perpisahan? Berpisah.
Lalu untuk apa mereka datang?
Panggil aku manusia tolol yang menjawab pertanyaannya sendiri.
Baiklah, mereka hanya meminta untuk dikenang. Atau selebihnya. Manusia butuh didengar bukan? Manusia butuh orang lain untuk membantunya. Menaruhkan masker kedalam tas, membuatkan pr, mengambilkan pulpen jatuh, memegangi pintu toilet. Seperti itu.
Tapi terkadang mereka yang meminta kenangan. Untuk apa? Mereka butuh bekal untuk kedepan. Dan jika mereka merasa cukup, mereka akan bilang terimakasih. Lalu pergi dan meminta kenangan lagi kepada yang lain. Tapi mereka bukan Dementor, ingat itu.
Secepat itu? Manusia punya tujuan hidupnya sendiri. Pada akhirnya manusia tinggal sendiri.
Lalu disebut apa perpisahan? Selesai dalam satu babak.
Mengapa terkadang perpisahan menyakitkan? Mungkin karena kenangan tentang hal yang monoton. Kenangan bertolak dengan waktu. Perpisahan hanya tentang waktu.
Siang itu ada kucing yang melahirkan. Bukan di atap, bukan di rumah kosong, melainkan di teras rumahku. Ada 3ekor anak kucing, mereka seperti alien. Aku mengamati mereka, hari pertama mereka seperti alien, hari kedua mereka masih seperti alien, hari ketiga mereka mulai ber-meong mencari ibunya. Hari keempat mereka pindah, bukan langkah mereka hanya menggeser tubuh mungilnya, hari kelima tubuhnya bukan menyerupai alien lagi, aku mulai bisa membedakan mereka, memberinya nama. Kucing yang seperti ibunya aku beri nama Kucing1, kucing yang seperti ibunya dan sedikit lebih aktif aku beri nama Kucing2, dan yang pendiam aku beri nama Kucing3 –panggil aku Pemberi Nama yang Buruk-
Hari keenam Kucing3 mati, hari ketujuh Kucing1dan2 menyusul. Si Induk hanya diam, entah apakah dia mengerti atau tidak, yang jelas aku tidak bisa bahasa kucing. 
Hari pertama mereka bilang ‘Hai’ dan hari ketujuh mereka bilang ‘Selamat tinggal’. Begitu singkat. Perpisahan memang menyakitkan.
Apa aku kurang bersyukur? Nasibku lebih baik dari Kucing 1,2,dan 3. Aku masih bisa bertemu dan mengucapkan ‘hai’ kepada yang lain. Bertemu dengan hidup yang kubilang monoton.

Pertemuan mencintai perpisahan. Seperti Sidiq yang mencintai tidur, Galuh yang mencintai buku, Owen yang mencintai gitarnya, Barry yang mencintai anime, Riyan yang mencintai Path, Suffa yang mencintai kameranya, Dera, Jody, Ojan, Kevin -dan entahlah mereka terlalu banyak- yang mencintai motor dan kopinya, Bu Ema yang mencintai ungu, dan Si Induk yang mencintai anaknya. Analogi yang masuk akal, hei?



NP: bahasanya aneh, suatu saat ini harus diperbaiki. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar